Nosel.co Purworejo- Upaya menggali kembali sejarah dan melestarikan warisan budaya Bagelen terus mendapat perhatian. Panitia Grebeg Bagelen 2026 menggelar Sarasehan dan Diskusi Publik bertajuk “Sunan Geseng: Wali Larat, Riwayat, dan Laku Hayat” di Aula Kecamatan Bagelen, Rabu (2/9/2026) malam.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bagelen Culture Festival Gumregah Bagelen ke-4 bertema “Mangesti Luhuring Bagelen”. Sarasehan ini juga menjadi kelanjutan dari penelitian dan penghimpunan berbagai sumber sejarah tentang Sunan Geseng atau Mbah Cokrojoyo yang dilakukan oleh Tim Peneliti Tapa Rembaka.
Sejumlah narasumber hadir dalam diskusi tersebut, di antaranya Dr. Sudibyo, M.Hum., filolog dan Pangarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman; Bagas Pratyaksa Nuraga, S.Sej., M.A., sejarawan sekaligus Koordinator Tim Penulis Tapa Rembaka; serta M. Yaser Arafat, M.A., dosen dan budayawan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh Mastri Imammusadin, S.H.
Namun, perhatian menarik datang dari Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, yang menekankan pentingnya menjaga objektivitas dalam menelusuri dan menulis sejarah Sunan Geseng.
Menurut Dion, kecintaan masyarakat terhadap tokoh lokal merupakan sesuatu yang positif. Namun, kebanggaan tersebut tidak boleh membuat proses penelitian kehilangan sikap kritis. Sejarah, menurutnya, harus dibangun berdasarkan fakta dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia mengingatkan agar para peneliti tidak memulai penelitian dengan sebuah kesimpulan, kemudian hanya mencari bukti yang mendukung keyakinan tersebut.
“Kadang kita sudah menyimpulkan terlebih dahulu, baru mencari faktanya. Kita sudah punya kesimpulan, kemudian mencari sumber yang mendukung kesimpulan tersebut. Ini yang harus kita hindari,” tegas Dion.
Bagi Dion, penulisan sejarah membutuhkan keberanian untuk melihat seluruh fakta, termasuk sumber-sumber yang mungkin tidak selalu sesuai dengan asumsi awal. Karena itu, ia meminta agar sumber primer dan sekunder mengenai Sunan Geseng dipetakan serta diklasifikasikan secara jelas.
Sumber yang mendukung suatu pandangan tidak boleh menjadi satu-satunya dasar penelitian. Sebaliknya, sumber yang memiliki pandangan berbeda juga harus tetap dikaji melalui metode kritik sumber.
Dion berharap, kajian mengenai Sunan Geseng nantinya tidak berhenti pada cerita mistis atau sekadar pengultusan terhadap seorang tokoh. Lebih dari itu, masyarakat perlu mengenal Sunan Geseng sebagai sosok manusia, ulama, dan tokoh yang memiliki perjalanan hidup, keilmuan, serta peran dalam perkembangan Islam.
Mengurangi unsur mitos, menurutnya, bukan berarti menghilangkan kebesaran seorang tokoh. Justru melalui penelitian yang objektif, ketokohan Sunan Geseng dapat dipahami dengan lebih jernih dan memiliki dasar sejarah yang kuat.
Di sisi lain, Mastri Imammusadin, S.H., selaku moderator, menyampaikan pandangan yang tak kalah penting. Ia berharap perhatian terhadap warisan Sunan Geseng tidak hanya berhenti dalam ruang diskusi dan penelitian, tetapi juga mendapatkan dukungan nyata dari pemerintah daerah.
Mastri menyoroti fenomena menarik: di sejumlah daerah lain, tradisi dan ritus yang berkaitan dengan Sunan Geseng justru berkembang dengan meriah. Namun, di Purworejo yang diyakini memiliki kedekatan sejarah dengan tokoh tersebut, perhatian terhadap tradisi dan warisan Sunan Geseng dinilai masih belum sebesar yang diharapkan.
“Di daerah-daerah lain ritus Sunan Geseng malah meriah sekali, sedangkan di tanah kelahirannya, Purworejo, justru sepi,” menjadi kegelisahan yang disampaikan dalam forum tersebut.
Pandangan Dion dan Mastri seolah menghadirkan dua pesan penting yang saling melengkapi. Di satu sisi, sejarah Sunan Geseng harus diteliti secara ilmiah, kritis, dan tidak terjebak pada romantisme maupun mitos. Di sisi lain, hasil dari penelitian tersebut juga harus mendapatkan ruang untuk dikenal, dirawat, dan diwariskan kepada masyarakat.
Penelitian yang dilakukan Tim Tapa Rembaka sendiri tidak hanya berpusat di Bagelen dan Purworejo. Tim juga melakukan penelusuran ke sejumlah wilayah yang memiliki keterkaitan dengan Sunan Geseng. Berbagai sumber, mulai dari naskah, manuskrip hingga cerita rakyat, diteliti dan diverifikasi.
Sejumlah lokasi juga menjadi bagian dari penelusuran, seperti petilasan di Dusun Gatep, sejumlah masjid di Kecamatan Bagelen dan Loano, hingga lokasi di luar Purworejo yang memiliki hubungan dengan perjalanan Sunan Geseng.
Menariknya, penelitian tersebut tidak hanya berupaya mengungkap jejak sejarah. Dari perjalanan dan nilai-nilai yang dikaitkan dengan Sunan Geseng, tim juga menemukan sejumlah keteladanan yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, termasuk persoalan kepedulian terhadap lingkungan.
Rangkaian Bagelen Culture Festival Gumregah Bagelen ke-4 pun menjadi ruang yang lebih luas untuk merawat identitas Bagelen. Tidak sekadar menghadirkan hiburan dan tradisi, festival ini mencoba mempertemukan sejarah, budaya, keagamaan, lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Setelah sarasehan, sejumlah agenda budaya turut digelar, mulai dari Kirab atau Grebeg Budaya Bagelenan, pertunjukan Seni Ndolalak dan Jaran Kepang, hingga Pengajian Akbar.
Pada akhirnya, upaya menggali sejarah Sunan Geseng menjadi pekerjaan bersama. Seperti pesan Dion Agasi Setiabudi, kebanggaan terhadap tokoh lokal harus berjalan bersama dengan keberanian mencari kebenaran sejarah. Sementara seperti harapan Mastri Imammusadin, warisan tersebut juga membutuhkan perhatian nyata agar tidak justru lebih hidup dan dikenal di daerah lain dibandingkan di tanah yang memiliki kedekatan sejarah dengannya.
Sunan Geseng bukan sekadar cerita masa lalu. Ia dapat menjadi pintu untuk memahami sejarah, merawat identitas Bagelen, sekaligus mewariskan nilai dan pengetahuan kepada generasi yang akan datang.

