Nosel.co Jakarta- Monica Maudi Sundara lahir di Bandung Barat, di sebuah daerah kecil di pinggiran kota yang pada masa itu dikenal sebagai lingkungan yang cukup keras. Pengamen, copet, hingga preman menjadi bagian dari keseharian di sekitarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Monica tumbuh dalam keluarga yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Namun, latar belakang keluarga militer serta pola didik kedua orang tuanya yang cukup keras membuatnya terbiasa belajar dan menghadapi berbagai hal secara mandiri.
Ia mengaku tidak banyak merasakan kehangatan dari orang tua, dan sejak kecil kehidupannya sudah dipenuhi dengan berbagai proses adaptasi.
Masa kecil Monica pun diwarnai perpindahan tempat dan sekolah. Saat SD, ia harus tiga kali berpindah sekolah karena konflik antara ayah dan ibunya.
Memasuki SMP, Monica tinggal selama dua tahun bersama seorang nenek yang bukan nenek kandungnya, sementara kedua orang tuanya telah berpindah ke Jawa Timur dan ia tetap tinggal di Jawa Barat. Ketika SMA, ia kembali berpindah tempat ke Pamekasan, Madura, untuk tinggal bersama keluarga dari pihak ayah.

Hingga saat ini, Monica tidak pernah benar-benar tinggal bersama kedua orang tuanya secara penuh waktu. Pengalaman berpindah-pindah tersebut membuatnya terbiasa dengan kehidupan nomaden dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kebiasaan berorganisasi dan bersosialisasi sejak kecil kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya. Saat kuliah, Monica aktif mengikuti berbagai organisasi dan membangun banyak relasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan S2 pada Juli lalu, ia menghadapi situasi yang membuatnya perlu lebih kreatif dalam membangun karier. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang dan sulitnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan, Monica memilih terus bergerak.
Selama kuliah S2, ia sempat membangun bisnis F&B untuk membantu biaya tempat tinggal, kemudian beralih ke berbagai pekerjaan freelance seperti menangani event, mentoring, konsultasi, hingga mencoba dunia digital seperti affiliate.
Ia juga terus belajar berbagai kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Aktivitasnya kini semakin beragam.
Monica banyak terlibat dalam pekerjaan yang membutuhkan kemampuan komunikasi dan interaksi dengan banyak orang. Ia beberapa kali menjadi pemateri maupun presenter dalam berbagai konferensi nasional dan internasional yang berkaitan dengan penelitian.
Saat ini, ia juga sedang menangani proyek sebagai asisten penelitian bersama beberapa dosen. Menurutnya, kehidupan freelance memberikan keleluasaan untuk menentukan kesibukan dan menyesuaikan deadline dengan klien. Namun, ada pula tantangannya: ketika tidak ada proyek, ia mengaku bisa merasa pusing juga.
Ke depan, Monica berharap dapat semakin mengeksplorasi karier, meningkatkan perekonomian pribadi, menjaga kesehatan, serta semakin banyak membantu orang lain. Untuk keluarganya, ia berharap seluruh anggota keluarga selalu diberikan kesehatan setelah melewati ujian panjang dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi Monica, perjalanan hidup mengajarkannya untuk tidak terlalu takut terhadap apa yang dikatakan orang lain dan tetap menjalani langkah yang diyakini. Ia berpesan bahwa kepedulian terhadap kesehatan adalah hal utama, sekaligus mengingatkan agar setiap orang tetap berbuat baik kepada siapa pun.

Menurutnya, kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan menemukan jalannya untuk kembali kepada kita.
Pada akhirnya, ia percaya bahwa setiap keinginan membutuhkan usaha dan keyakinan, karena segala sesuatu akan datang pada waktu yang tepat. “Usaha dan yakinlah bahwa semua hal yang kita inginkan dan harapkan itu selalu pas pada waktunya.”
source image: monica

