Nosel.co Jakarta- Lahir dan tumbuh di pedesaan Kota Cianjur yang sejuk dengan udara segar dan lingkungan yang hangat, Leni Susanti memiliki kedekatan dengan kehidupan sederhana bersama keluarga.
Sebagai seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak, kesehariannya banyak diwarnai oleh peran dan tanggung jawab keluarga. Namun, perjalanan Leni menemukan ketertarikan baru ketika melihat ketiga anaknya memiliki minat yang besar terhadap kuda.
Terutama anak pertamanya, yang hampir setiap hari ingin berkuda dan bercita-cita menjadi atlet berkuda. Ketertarikan sang anak perlahan menumbuhkan rasa penasaran dalam diri Leni untuk mengenal dunia berkuda lebih jauh.
Awalnya, Leni ingin memahami aktivitas yang begitu disukai anak-anaknya. Namun, seiring waktu, ketertarikan tersebut berkembang menjadi keinginan untuk belajar secara langsung, bukan hanya menunggangi kuda, tetapi juga memahami cara mengendalikan dan membangun hubungan dengan hewan istimewa tersebut.
Baginya, berkuda bukan sekadar olahraga atau aktivitas fisik, melainkan sebuah proses pembelajaran tentang komunikasi, kepercayaan, dan keselarasan antara manusia dengan hewan.
Leni juga memandang kuda sebagai hewan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, sementara olahraga berkuda dikenal sebagai salah satu olahraga yang dianjurkan dalam tradisi Islam.

Bagi Leni, berkuda termasuk olahraga yang menantang karena membutuhkan ketekunan, kesabaran, keberanian, serta kemampuan mengendalikan emosi.
Seorang penunggang tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik atau keterampilan teknis, tetapi juga harus mampu memahami karakter dan respons kudanya. Ia menyadari bahwa kuda sering kali mencerminkan sikap penunggangnya.
Ketika seseorang merasa gugup, terburu-buru, atau kehilangan kendali, hal itu dapat memengaruhi interaksi dengan kuda. Karena itulah, proses belajar berkuda mengajarkan Leni untuk lebih tenang, peka, dan mampu mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai situasi.
Pengalaman tersebut juga memberikan pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari. Leni memahami bahwa setiap proses membutuhkan waktu dan tidak semua hal dapat dicapai dengan tergesa-gesa.
Sama seperti membangun kepercayaan dengan kuda, kehidupan pun memerlukan kesabaran, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.
Sebagai seorang ibu, pengalaman ini menjadi cara tersendiri bagi Leni untuk mendukung minat anak-anaknya sekaligus mengembangkan potensi diri.
Ia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah mengalami kesulitan, melainkan memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan dan memperbaiki diri setelah melewati kegagalan.

Melalui perjalanan mengenal dunia berkuda, Leni Susanti ingin terus bertumbuh, menikmati setiap proses pembelajaran, dan membangun hubungan yang semakin baik dengan kuda. Ia memegang sebuah pesan yang menjadi pengingat dalam perjalanan hidupnya:
“Bukan tentang seberapa cepat kamu berlari, tetapi seberapa serasi kamu dengan kudamu.” Baginya, keberhasilan bukan semata-mata tentang kecepatan mencapai tujuan, melainkan tentang kemampuan menjaga keseimbangan dan membangun keselarasan dalam setiap langkah.
Ia juga percaya bahwa orang yang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang mampu bangkit dan melanjutkan perjalanan dengan lebih baik.
Sebuah filosofi yang tidak hanya berlaku di arena berkuda, tetapi juga dalam menjalani kehidupan.
source image: Leni Susanti

