Nosel.co Jakarta- Lahir di Malaysia, Farisha Fasha Sahib kemudian ikut sang mama ke Indonesia setelah kedua orang tuanya berpisah. Padang, Sumatra Barat, menjadi tempat ia tumbuh dan membentuk banyak cerita dalam hidupnya.
Dari sana, Farisha memberanikan diri hijrah ke Jakarta untuk mengejar mimpi sebagai seorang aktor. Perjalanannya tentu tidak selalu mudah. Ia sempat mendapat cemoohan dan keraguan dari orang-orang yang merasa mimpinya terlalu tinggi.
Namun, Farisha memilih tidak berhenti dan perlahan membuktikan bahwa keyakinan yang disertai perjuangan mampu membawa seseorang semakin dekat dengan impiannya.
Sejak kecil, Farisha memang dikenal sebagai sosok yang senang mencoba hal-hal baru. Ia pernah menjadi penari, atlet judo, penulis, hingga menekuni hobi melukis.
Dunia modeling juga sempat menjadi bagian dari perjalanannya, sebelum namanya mulai dikenal melalui aktivitas sebagai content creator.
Ketertarikannya pada seni peran semakin kuat setelah ia mendapat tawaran bermain ketika masih berada di Padang. Kesempatan tersebut menjadi salah satu pintu yang kemudian membawanya mengambil langkah lebih besar dengan hijrah ke Jakarta.

Kini, Farisha aktif menjalani berbagai kesibukan sebagai aktris, content creator, sekaligus merintis bisnis kecil-kecilan.
Dunia seni peran membawanya pada pengalaman baru, bertemu banyak orang, dan belajar dari berbagai karakter serta cerita kehidupan. Beberapa project terakhir yang ia jalani antara lain Para Pencari Tuhan dan Lorong Waktu.
Bagi Farisha, pekerjaan yang dijalaninya bukan sekadar profesi, melainkan cita-cita yang sudah ia cintai sejak kecil.
Namun, perjalanan di dunia entertainment juga memiliki sisi yang tidak selalu mudah. Persaingan yang ketat membuat Farisha beberapa kali gagal mendapatkan peran yang diinginkan.
Ada kalanya ia harus kalah karena kompetitor bersedia dibayar lebih murah, bahkan faktor relasi atau “orang dalam” terkadang menjadi tantangan tersendiri.
Meski begitu, pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing, sehingga kegagalan bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Bagi Farisha, tidak ada perjalanan yang harus selalu cepat untuk bisa sampai pada tujuan. Yang terpenting adalah tetap berjalan, belajar, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Ia memilih untuk tidak membandingkan prosesnya dengan orang lain karena yakin setiap perjuangan memiliki waktunya masing-masing.
“Pelan-pelan tidak apa-apa, yang penting kamu terus berjalan,” menjadi pesan yang ia pegang dalam menjalani hidup. Karena selama masih mau berusaha dan percaya bahwa kesempatan itu selalu ada, mimpi yang dahulu diragukan orang lain pun perlahan bisa menjadi kenyataan.
source image: Farisha Fasha

