Nosel.co Jakarta- Lahir dan besar di Bali, Prithi Devi tumbuh di tengah keluarga yang masih sangat kental dengan budaya dan nilai-nilai tradisi. Lingkungan tempat ia dibesarkan menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang ia kenal hari ini.
Sejak kecil, Prithi dikelilingi oleh orang-orang yang memberikan motivasi untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Ia juga bersyukur memiliki keluarga yang hangat, yang selalu mendukung setiap langkah dan menjadi sumber inspirasi dalam hidupnya. Dari Bali, ia belajar tentang budaya, warisan, dan nilai-nilai kehidupan yang hingga kini ingin terus dijaga dan dibawanya ke mana pun ia melangkah.
Saat ini, Prithi sedang menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada dan telah memasuki tahun ketiga. Selain menjalani aktivitas akademik, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan di luar perkuliahan.
Salah satunya sebagai Duta Mahasiswa Kedokteran Indonesia serta terlibat di Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional ISMKI. Perjalanan tersebut bukan sesuatu yang sejak awal ia bayangkan akan membawanya sampai pada titik seperti sekarang.

Namun, berbagai kesempatan, proses, dan keberanian untuk mencoba telah mempertemukannya dengan banyak pengalaman berharga. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan, termasuk Gema Raya yang berhubungan dengan anak-anak, semakin menyadarkan Prithi bahwa perjalanan di dunia kedokteran bukan hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga nilai kemanusiaan dalam dirinya.
Bagi Prithi, ilmu kedokteran dan berbagai kegiatan yang dijalaninya merupakan ruang untuk terus belajar berkomunikasi, berkontribusi, serta memberikan dampak bagi lingkungan sekitar. Ia ingin menjadi pribadi yang mampu menebarkan kebaikan melalui apa pun peran yang dijalaninya.
Namun, perjalanan sebagai mahasiswa kedokteran yang aktif dalam organisasi dan berbagai kegiatan tentu tidak selalu mudah. Jadwal kuliah, waktu belajar, organisasi, kegiatan duta, hingga kehidupan pribadi harus berjalan secara bersamaan. Ada kalanya beberapa kegiatan datang dalam waktu yang bersamaan dan membuatnya merasa lelah bahkan mengalami burnout.
Dari berbagai tantangan tersebut, Prithi belajar bahwa time management bukan berarti harus mampu mengerjakan semuanya dalam satu waktu. Ia mulai memahami pentingnya menentukan prioritas dan tidak terlalu keras terhadap diri sendiri.
Memberikan waktu untuk me time menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan. Selain itu, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa jauh dari Bali juga menghadirkan tantangan tersendiri. Prithi yang dekat dengan orang tua pernah merasakan homesick. Namun, jarak justru mengajarkannya untuk menjadi lebih mandiri, mengenal dirinya lebih dalam, dan belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Ke depan, Prithi Devi berharap dapat terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Ia ingin menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan baik dan kelak menjadi seorang dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki empati terhadap setiap pasien.
Ia juga berharap keluarganya selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan, serta dirinya terus dipertemukan dengan orang-orang baik yang dapat menjadi bagian dari proses belajarnya.

Kepada siapa pun yang sedang menjalani perjalanan hidup, Prithi berpesan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tidak perlu membandingkan proses diri dengan perjalanan orang lain.
Ada satu kalimat yang menjadi bagian dari cara pandangnya terhadap kehidupan: “As long as I’m alive, I can begin again, and again, and again.”
Baginya, selama masih hidup, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali setelah gagal, kehilangan arah, atau ketika sesuatu belum berjalan sesuai harapan.
Apa yang diusahakan hari ini mungkin belum menunjukkan hasil sekarang, tetapi bukan berarti tidak akan terwujud di masa depan. Karena itu, jangan berhenti percaya pada diri sendiri, jangan berhenti belajar, dan jangan pernah berhenti berusaha.
source image: dr prithi devi

