Nosel.co Jakarta- Tidak semua orang tumbuh dengan kehidupan yang sempurna. Bagi Veeni Vee, masa kecil justru menjadi perjalanan panjang yang dipenuhi tantangan.
Perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah, ini menghabiskan masa kecilnya dalam hangatnya suasana pedesaan bersama teman-teman yang menyenangkan. Namun, di balik kehangatan itu, Veeni harus menjalani hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya sejak masih balita.
Berawal dari persoalan keluarga, Veeni mulai mencari cara untuk menghibur dan menyembuhkan dirinya sendiri. Sejak duduk di bangku SMP, musik menjadi tempatnya pulang. Dari sanalah perlahan tumbuh kecintaan yang begitu besar terhadap dunia musik.
Baginya, menjadi seorang DJ bukan sekadar tentang hobi atau profesi. Musik adalah terapi psikis, sebuah ruang untuk berdamai dengan luka dan menemukan kembali kekuatan dalam dirinya. Perjalanannya mendalami dunia DJ pun dimulai secara serius di Bali, melalui Pro DJ School.
Bagi sebagian orang, profesi DJ mungkin hanya sebuah pekerjaan atau cara menyalurkan passion. Namun, bagi Veeni, DJ adalah mata air kehidupan. Dari musik, ia bisa bertahan hidup, membantu memenuhi kebutuhan dan membahagiakan nenek serta kakeknya yang telah membesarkannya.
Bahkan, dari hasil kerja kerasnya sebagai DJ, Veeni mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang Magister atau S2. Semua yang ia raih hari ini tumbuh dari keberaniannya untuk mempercayai satu hal: hidupnya tidak harus ditentukan oleh masa lalu.

Veeni pernah berada pada titik di mana keadaan seolah mengatakan bahwa hidupnya tidak akan mudah. Lahir dari keluarga sederhana, tumbuh tanpa orang tua, dan menghadapi berbagai persoalan keluarga, menjadi alasan yang cukup bagi sebagian orang untuk menyerah.
Namun, Veeni memilih jalan yang berbeda. Ia menolak anggapan bahwa hidupnya tidak akan beruntung. Ia memilih untuk membuktikan bahwa masa depan bisa diciptakan.
“Aku tidak menunggu momen,” seolah menjadi prinsip dalam perjalanannya. Ia percaya kebahagiaan dan keberuntungan bukan hanya sesuatu yang ditunggu, tetapi sesuatu yang bisa diperjuangkan dan diciptakan.
Ke depan, Veeni berharap kisahnya dapat menjadi kekuatan bagi mereka yang memiliki latar belakang serupa. Mereka yang lahir dari keluarga sederhana, mengalami broken home, kehilangan sosok orang tua, atau dibesarkan oleh nenek dan kakek.
Ia memahami bahwa trauma sering kali membuat seseorang merasa sendirian dan kehilangan arah. Namun, Veeni ingin menyampaikan bahwa hidup hanya sekali dan setiap orang berhak memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Masa lalu boleh menjadi bagian dari perjalanan, tetapi tidak harus menjadi penentu masa depan.
Bagi Veeni, setiap orang memiliki trauma. Namun, diri sendirilah yang memegang kendali atas bagaimana luka itu disembuhkan dan ke mana kehidupan akan dibawa.
Karena itu, ia mengajak siapa pun yang sedang berjuang untuk tidak merusak masa depannya dengan pilihan yang salah. “Kamu berutang bahagia kepada dirimu sendiri,” menjadi pesan sederhana namun penuh makna. Hidup terlalu berharga untuk dihancurkan oleh luka masa lalu.

Veeni percaya bahwa langit malam yang paling gelap justru membuat bintang terlihat paling terang. Begitu pula dengan kehidupan. Latar belakang keluarga yang retak tidak pernah menentukan masa depan seseorang. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangun kehidupannya sendiri, menciptakan rumah impiannya, dan menjadi cahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
“Latar belakang rumah yang retak tidak menentukan masa depanmu. Bangunlah istanamu sendiri, dan kamulah bintangnya.”
source image: DJ Veeni Vee

