Nosel.co Jakarta- Bernica Putri tumbuh di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sebuah tempat yang selalu memiliki ruang istimewa di hatinya.
Ia menghabiskan masa kecil hingga sekolah menengah pertama di kota tersebut sebelum melanjutkan pendidikan SMA dan kuliah di Pulau Jawa. Baginya, Ketapang bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan rumah yang menyimpan kedekatan emosional dan kehangatan keluarga.
Sejauh apa pun langkahnya merantau, pulang selalu menjadi hal yang ia usahakan, bahkan ketika waktu yang tersedia sangat singkat. Ada ikatan yang tidak berubah oleh jarak, yakni keluarga dan rumah tempat ia memulai segalanya.
Bernica mengibaratkan dirinya seperti tanaman yang bertunas di rumah, tetapi bertumbuh di Pulau Jawa. Sebuah perjalanan yang mengajarkannya bahwa seseorang boleh pergi jauh untuk berkembang, tanpa harus kehilangan akar yang membentuk dirinya.
Menariknya, dunia hukum bukanlah bidang yang sejak awal menjadi cita-cita Bernica. Keputusannya mengambil jurusan hukum justru berawal dari rasa ingin tahu sederhana tentang kehidupan manusia yang tidak pernah lepas dari aturan.
Ia bertanya-tanya, bagaimana hukum bekerja dalam mengatur berbagai aktivitas manusia? Bagaimana aturan membentuk kehidupan bermasyarakat dan menjaga hubungan antarmanusia? Rasa penasaran tersebut kemudian membawanya memasuki dunia hukum, sebuah pilihan yang tidak pernah benar-benar ia bayangkan sebelumnya.
Dalam perjalanannya, Bernica menyadari bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia. Ada hal-hal yang baru dipahami setelah dijalani, termasuk potensi diri dan jalan karier yang ternyata sesuai dengan dirinya.
Baginya, perjalanan menemukan profesi bukan semata-mata tentang menentukan tujuan sejak awal, melainkan juga tentang kesediaan mengikuti proses dan menemukan makna di sepanjang perjalanan.

Bagi Bernica, belajar hukum bukan hanya mempelajari pasal, peraturan, atau berbagai ketentuan yang berlaku, tetapi juga belajar membangun cara berpikir. Pengalaman mendalami ilmu hukum telah mengubah caranya menilai sesuatu, memahami orang lain, berkomunikasi, hingga memandang nilai-nilai kehidupan.
Proses tersebut menjadi bagian penting dari pengembangan dirinya. Ia pun bersyukur karena perjalanan belajarnya dipertemukan dengan orang-orang yang terbuka berbagi ilmu, senang berdiskusi, dan bersedia memahami. Kehadiran orang-orang seperti itu membuat proses bertumbuh terasa lebih bermakna.
Dalam menjalani kehidupan, Bernica memegang keyakinan bahwa sesuatu yang baik akan menemukan jalannya sendiri. Jika satu kesempatan tidak berhasil, bukan berarti seluruh jalan telah tertutup. Masih ada pilihan lain yang dapat dicoba.
Pola pikir tersebut membantunya menerima kegagalan tanpa kehilangan harapan, sekaligus memahami bahwa tidak semua hal yang diinginkan harus menjadi miliknya.
Dalam memandang masa depan, Bernica memiliki harapan yang berangkat dari kesederhanaan sekaligus kepedulian. Ia ingin keluarganya selalu sehat dan bahagia karena baginya, keberhasilan maupun kegagalan akan terasa lebih bermakna ketika dijalani bersama orang-orang terkasih.
Untuk dirinya dan kariernya, ia berharap dapat terus berjalan beriringan dengan pilihan hidup yang baik, sehingga di mana pun berada dan kepada siapa pun berinteraksi, ia selalu memiliki kesempatan untuk memberi manfaat.
Ada prinsip yang ingin ia pegang: memberi kepada diri sendiri agar merasa cukup, serta memberi kepada orang lain agar mereka juga merasakan kecukupan. Ia menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara kehendak Sang Pencipta jauh melampaui kemampuan manusia untuk memperkirakan segala sesuatu.
Karena itu, ia berharap selalu diberikan apa yang benar-benar dibutuhkan dalam hidup. Kepeduliannya juga meluas pada kehidupan sosial. Menurutnya, ketika melihat kondisi yang perlu diperbaiki, masyarakat tidak seharusnya hanya diam. Perubahan membutuhkan kesadaran dan tindakan nyata, sebagaimana sesuatu yang rusak perlu diperbaiki, bagian yang tidak berfungsi perlu diganti, atau bahkan cara baru perlu diciptakan agar keadaan menjadi lebih baik.
Melalui perjalanan dan refleksi hidupnya, Bernica menyampaikan pesan yang mengingatkan setiap orang tentang kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Apa pun posisi, jabatan, jumlah harta, maupun luasnya jaringan pertemanan yang dimiliki, ia berharap manusia tidak pernah lupa bahwa pada hakikatnya tidak ada sesuatu yang benar-benar berada dalam kuasa mutlaknya, bahkan kehidupan itu sendiri.

Kesadaran tersebut menjadi pengingat untuk tetap kuat ketika berada di titik terendah dan tidak kehilangan kerendahan hati ketika berada di puncak keberhasilan. Saat hidup terasa berat, seseorang perlu bertahan dan percaya bahwa masih ada jalan yang dapat ditempuh.
Sebaliknya, ketika segala sesuatu berjalan baik, rasa syukur dan kesadaran kepada Tuhan harus tetap dijaga. Bagi Bernica, hidup bukan sekadar perjalanan untuk memperoleh sebanyak-banyaknya, melainkan kesempatan untuk bertumbuh, memperbaiki keadaan, dan memberi manfaat selama masih diberi waktu.
Sebab, manusia boleh merencanakan langkah dan memperjuangkan impiannya, tetapi pada akhirnya, setiap perjalanan mengajarkan satu hal penting: tetaplah berusaha, jangan berhenti memperbaiki diri, dan jangan pernah lupa kepada Pemilik kehidupan.
source image: Bernica Putri

