Nosel.co Jakarta- Berasal dari Manado, Anggita tumbuh dengan kedekatan keluarga yang menjadi salah satu sumber kebahagiaan dalam hidupnya.
Baginya, Manado bukan sekadar tempat asal, melainkan kota yang menawarkan kehangatan, kebersamaan, dan ikatan kekeluargaan yang kuat.
Banyak anggota keluarganya tinggal di sana, membuat suasana kekeluargaan menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Kini, Anggita menjalani profesinya sebagai perawat di salah satu rumah sakit di wilayah Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Sebuah pekerjaan yang bukan hanya menuntut keterampilan, tetapi juga kesabaran, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama.
Bagi Anggita, menjadi perawat adalah pekerjaan yang melelahkan sekaligus memberikan kebahagiaan tersendiri.
Ia menyebut profesinya sebagai pekerjaan yang capek-capek sedap, karena setiap hari harus berhadapan dengan pasien dan keluarga yang memiliki karakter berbeda-beda. Ada banyak pengalaman suka dan duka yang ia temui selama menjalani profesi ini.
Terkadang, tenaga kesehatan menjadi pihak yang disalahkan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, tetapi pada saat yang sama, mereka juga menjadi orang yang paling dibutuhkan.
Situasi tersebut menjadi bagian dari dinamika pekerjaan yang mengajarkannya untuk terus belajar memahami manusia dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

Sebagai seorang tenaga kesehatan, Anggita memahami bahwa profesi perawat membutuhkan komitmen yang besar. Pendidikan, pengalaman, dan sumpah profesi telah membentuk dirinya untuk tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Ia berusaha tidak mudah terpancing oleh perkataan yang merendahkan atau penilaian yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Menurutnya, tidak semua orang memahami bagaimana beratnya bekerja di dunia kesehatan, termasuk tekanan, tanggung jawab, dan perjuangan yang terkadang tidak terlihat. Karena itu, Anggita memilih untuk tetap tenang, menjalani pekerjaannya dengan profesional, dan tidak membiarkan pandangan negatif orang lain memadamkan semangatnya untuk membantu sesama.
Anggita berharap dunia kesehatan di Indonesia semakin maju dan para tenaga kesehatan mendapatkan dukungan serta penghargaan yang layak atas pengabdian mereka.
Ia juga berharap setiap tenaga kesehatan mampu terus menjaga kesabaran, terutama ketika menghadapi keadaan di luar kendali yang tidak mudah diterima.
Baginya, tantangan dan sorotan negatif, termasuk ketika tenaga kesehatan menjadi perbincangan di media sosial, tidak seharusnya menghapus kenyataan tentang kerja keras yang mereka lakukan setiap hari.
Ia percaya bahwa tidak semua perjuangan dapat dipahami oleh orang lain. Ada kalanya, yang bisa dilakukan hanyalah tetap bekerja dengan baik, memperbanyak doa, menjaga hati, dan bersyukur atas kesempatan untuk memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan.

Bagi Anggita, kedewasaan mengajarkan dua hal penting dalam kehidupan, yaitu bersyukur atas apa yang telah diraih dan bersabar atas apa yang belum dimiliki.
Prinsip sederhana ini menjadi pengingat agar dirinya tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tidak lupa menghargai hal-hal baik yang sudah dimiliki. Ia ingin terus menjalani profesinya dengan hati yang bahagia, semangat yang terjaga, dan rasa syukur dalam setiap prosesnya.
Sebab, menjadi perawat bukan semata-mata tentang menghadapi pasien dan menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga tentang menghadirkan kepedulian, memberikan harapan, dan menjadi bagian dari perjuangan seseorang untuk kembali sehat.
Melalui pengabdiannya, Anggita menunjukkan bahwa di balik lelahnya dunia kesehatan, selalu ada nilai kemanusiaan yang layak diperjuangkan.
source image: Anggita

