Nosel.id Jakarta- Abigail Benedicta Sulle adalah seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Trisakti yang lahir dan besar di Sulawesi Tengah. Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, sebuah kota yang mungkin tidak terlalu luas, tetapi menyimpan keindahan alam dan kehangatan masyarakatnya.
Salah satu daya tarik daerah tersebut adalah Teluk Tomori yang menawarkan pesona wisata bahari. Bagi Abigail, merantau membuatnya semakin merindukan kehangatan keluarga serta kuliner khas Morowali Utara, seperti modui dan meti lewe olo, hidangan berbahan dasar sagu yang dipadukan dengan kerang sungai.
Kini, sebagai mahasiswi semester lima, Abigail menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ia aktif mengikuti perkuliahan, magang, organisasi kampus, berolahraga, hingga sesekali terlibat dalam kegiatan sosial.
Kepeduliannya terhadap sesama menjadi salah satu alasan mengapa ia senang terlibat dalam aktivitas kemanusiaan.

Abigail percaya bahwa setiap orang memiliki potensi untuk memberikan manfaat. Berbekal kemampuannya dalam membangun komunikasi, ia ingin menjadi perpanjangan tangan untuk membantu sesama dan ikut berkontribusi dalam sebuah kemajuan.
Semangat tersebut juga membawanya meraih pengalaman sebagai pemenang Puteri Pariwisata Morowali Utara, yang kemudian membuatnya semakin aktif dalam dunia pageant.
Menjalani banyak aktivitas tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah ketika harus berhadapan dengan berbagai deadline yang datang bersamaan. Namun, Abigail belajar untuk menjadi lebih bijak dalam mengatur waktu agar semua tanggung jawabnya dapat berjalan beriringan. Baginya, menikmati setiap proses adalah sebuah pilihan. I
a selalu mengingat bahwa apa yang sedang dijalani hari ini mungkin merupakan hasil dari doa-doa yang pernah dipanjatkan di masa lalu. Karena itu, ketika sebuah kesempatan telah diberikan, sudah sepatutnya dijalani dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ke depan, Abigail berharap setiap langkah dan aktivitas yang dijalaninya selalu diberikan kemudahan dan kekuatan. Ia juga memiliki harapan besar untuk keluarganya, terutama kedua orang tuanya, agar selalu diberikan kesehatan sehingga dapat terus mendampingi dan memberikan arahan dalam setiap bab kehidupannya.
Abigail berharap dapat segera menyelesaikan pendidikannya, meraih kelulusan, serta mendapatkan lingkungan kerja yang suportif.
Ia juga mendoakan agar dirinya selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam mencari rezeki, begitu pula dengan teman-teman dan orang-orang di sekelilingnya agar senantiasa dimudahkan dalam menjalani kehidupan.

Melalui perjalanan yang dijalaninya, Abigail ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda untuk selalu mengerjakan setiap tanggung jawab dengan baik dan sepenuh hati.
Menurutnya, tekanan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang menjatuhkan mental, tetapi justru dapat menjadi peluru semangat dan batu loncatan untuk terus memperjuangkan impian.
Setiap orang memiliki waktunya masing-masing, sehingga tidak perlu terburu-buru atau membandingkan perjalanan dengan orang lain.
Sebab, seperti yang diyakini Abigail, “Segala sesuatu sudah ada waktunya, dan apa yang sudah tertakar pasti tidak akan tertukar.”
source image: Abigail Benedicta Sulle

