Nosel.co Jakarta- Lahir di Sukabumi dan tumbuh besar di Plumpang Semper, Jakarta Utara, Gleydischa Sri Rahman memiliki perjalanan hidup yang penuh warna. Perbedaan lingkungan sempat ia rasakan ketika kembali ke Sukabumi untuk melanjutkan pendidikan SMA.
Ia mengalami sedikit culture shock karena masyarakat di sana dikenal sangat ramah. Bahkan, kebiasaannya menggunakan sapaan “gue-lo” perlahan berganti menjadi “aku-kamu”.
Pengalaman tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan hidupnya dalam mengenal lingkungan baru dan beradaptasi dengan budaya yang berbeda.
Dunia hiburan bukanlah sesuatu yang asing bagi Gleydischa. Sejak kecil, ia telah terjun sebagai model cilik.
Memasuki usia 18 tahun, pengalamannya semakin berkembang melalui berbagai kegiatan, mulai dari shooting FTV, iklan, talkshow, sinetron, hingga bernyanyi.
Dunia entertainment menjadi ruang baginya untuk menyalurkan hobi sekaligus mengeksplorasi kemampuan diri. Namun, seiring berjalannya waktu, Gleydischa memilih menutup satu babak perjalanan tersebut dan melangkah ke dunia profesional.
Kini, ia bekerja di sebuah perusahaan asing di Singapura, membuktikan bahwa perjalanan karier tidak selalu harus berada di jalur yang sama untuk terus berkembang.

Bagi Gleydischa, salah satu hal paling menyenangkan dari dunia hiburan adalah proses shooting itu sendiri. Ia menikmati setiap kesempatan untuk berkarya di depan kamera. Meski demikian, profesi tersebut juga memiliki tantangan tersendiri.
Ia harus selalu siap siaga selama 24 jam karena panggilan shooting bisa datang sewaktu-waktu. Di luar kesibukannya, Gleydischa juga memiliki perhatian khusus terhadap perawatan kulit.
Ia mengaku jarang melakukan perawatan langsung ke dokter, tetapi penggunaan skincare menjadi rutinitas wajib. Beragam produk, mulai dari merek lokal hingga high-end, serta dari harga terjangkau hingga premium, menjadi bagian dari caranya menjaga kesehatan kulit.
Dalam menjalani kehidupan, Gleydischa memegang prinsip untuk tidak mudah menyerah. Baginya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk mencoba kembali.
Ketika jatuh, seseorang harus belajar bangkit; ketika sedih, berusaha menemukan kembali kebahagiaan; dan ketika menghadapi masalah, mencari cara untuk memperbaiki keadaan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dengan berani mengambil jarak dari orang-orang yang membawa pengaruh buruk.
Menurutnya, hubungan apa pun, termasuk hubungan keluarga, tidak seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk terus bertahan dalam situasi yang merusak ketenangan batin. Sebab, mencintai orang lain tetap harus berjalan beriringan dengan menghargai dan melindungi diri sendiri.

Pesan kehidupan yang ingin disampaikan Gleydischa juga mengajarkan tentang keikhlasan dalam melepaskan sesuatu yang tidak lagi bisa dipertahankan.
Ia percaya bahwa tidak semua hal membutuhkan penjelasan, tidak semua hubungan harus diperjuangkan, dan tidak semua orang akan membalas ketulusan dengan cara yang sama. Terkadang, pilihan terbaik adalah menerima keadaan, merelakan kepergian, dan tetap melangkah maju tanpa harus menunggu jawaban. Sebagaimana pesannya ……
“Sometimes it’s better to just let things be, let people go. Don’t fight for closure, don’t ask for explanations, don’t chase answers. Because no matter how good you could be to somebody and how much you love them. They can and will turn their back on you. Keep moving forward.”
Sebuah pengingat bahwa hidup akan terus berjalan, dan seberapa pun menyakitkan pengalaman yang pernah dialami, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk bangkit, bertumbuh, dan menemukan kebahagiaannya sendiri.
source image: Gleydischa

