Nosel.co Jakarta- Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, dan tumbuh di tepian sungai, Nita Puspita memiliki latar belakang keluarga yang mempertemukan beragam budaya.
Sang ibu berdarah Tionghoa, sementara ayahnya memiliki keturunan Jawa dan Sunda. Perpaduan latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk dirinya. Dalam menjalani kehidupan, Nita belajar bahwa setiap orang memiliki jalan dan kesempatan masing-masing.
Baginya, yang terpenting bukanlah seberapa cepat seseorang mencapai kesuksesan, melainkan keberanian untuk memulai, kemauan untuk terus belajar, dan kemampuan mensyukuri setiap proses yang dilalui.
Perjalanan Nita dalam membangun usaha dimulai dari pengalamannya bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) handphone selama lima tahun. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman tentang produk, kebutuhan pelanggan, serta dinamika bisnis telepon genggam.
Berbekal pengalaman itu, Nita memberanikan diri membuka konter handphone miliknya sendiri.
Keputusan tersebut menjadi langkah besar karena ia harus beralih dari seorang karyawan menjadi pengusaha yang bertanggung jawab atas kelangsungan bisnisnya.
Alhamdulillah, usahanya terus berjalan hingga kini telah memasuki tahun kelima dan mampu mempekerjakan dua karyawan. Konternya menyediakan berbagai jenis handphone beserta aksesori untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Perjalanan ini menjadi bukti bahwa pengalaman sederhana, jika disertai keberanian dan ketekunan, dapat menjadi fondasi untuk membangun usaha yang berkelanjutan.

Selain menjalankan bisnis handphone, Nita juga memiliki aktivitas lain yang menambah warna dalam perjalanan usahanya. Ia sesekali menjual pakaian thrifting yang berasal dari koleksi pribadinya, terutama pakaian yang baru satu atau dua kali digunakan. Ia juga menjadi reseller parfum dari brand milik temannya.
Berbagai aktivitas tersebut dijalankan sesuai peluang dan kesempatan yang ada. Meski memiliki beberapa kegiatan sekaligus, Nita tetap memahami batasan peran dalam setiap usaha yang dijalankan.
Baginya, mengembangkan bisnis tidak selalu harus dimulai dengan modal besar atau membangun brand sendiri. Memanfaatkan peluang yang tersedia dan menjalin kerja sama dengan orang lain juga dapat menjadi cara untuk terus bergerak maju.
Tentu saja, perjalanan membangun bisnis tidak selalu berjalan mulus. Nita merasakan sendiri bahwa dunia usaha memiliki dinamika untung dan rugi. Ia pernah mengalami penipuan, menghadapi masalah handphone yang rusak, hingga kehilangan barang yang menjadi bagian dari usahanya.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kehati-hatian, ketahanan mental, dan kemampuan menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan. Namun, Nita memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan.
Ia berusaha menjaga semangat dengan tetap bersyukur dan percaya bahwa setiap orang telah memiliki porsi rezekinya masing-masing. Baginya, hidup akan terasa lebih ringan ketika seseorang berhenti mengkhawatirkan pencapaian orang lain dan mulai menghargai apa yang sudah dimiliki.
Ke depan, Nita berharap dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang. Ia ingin perjalanan hidup dan usahanya tidak hanya memberikan keuntungan secara materi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi keluarga, karyawan, pelanggan, serta orang-orang di sekitarnya.
Nita pun memiliki pesan yang relevan bagi siapa saja yang sedang berjuang membangun kehidupan:

“Akan selalu kurang jika standar hidupmu adalah nikmat orang lain. Ada banyak warna di hidup ini, yang kamu perlu hanyalah tetap membuka mata dan mensyukurinya.”
Pesan tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak akan mudah ditemukan jika kita terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan, tantangan, dan waktu keberhasilannya sendiri.
Karena itu, Nita mengajak kita untuk lebih fokus mengembangkan diri, menghargai setiap kemajuan sekecil apa pun, dan tidak lupa bersyukur atas kesempatan yang dimiliki. Sebab, hidup bukan tentang memiliki segala sesuatu yang orang lain punya, melainkan tentang menemukan makna dan kebahagiaan dari apa yang sedang kita perjuangkan.
source image: Nita Puspita

