Berasal dari Sentani, Papua, Vani tumbuh dalam lingkungan yang sederhana dan penuh cerita. Masa kecilnya banyak dihabiskan bersama anak-anak dari teman orang tuanya.
Karena tinggal di lingkungan yang sama dan orang tua mereka saling mengenal, mereka seperti “dipaksa” untuk berteman sejak kecil. Namun, justru dari situlah muncul banyak kenangan yang menyenangkan. Vani mengaku menikmati masa kecilnya di Sentani.
Ada rasa nyaman dalam kehidupan bertetangga dan kebersamaan yang membuat tempat itu tetap memiliki ruang tersendiri dalam ingatannya.
Kini, Vani dikenal lewat tulisan-tulisannya yang sederhana tentang kehidupan sehari-hari di sekitar tempat tinggalnya.
Ia tidak merasa sedang membangun sebuah profesi tertentu. Ia hanya menulis laporan kecil tentang kehidupan warga lokal, orang-orang di rumah, dan berbagai kejadian yang ditemuinya sehari-hari. Justru kesederhanaan itulah yang membuat banyak pembacanya merasa dekat.

Ceritanya bisa tentang keluarga kelas menengah yang makan makanan kemarin lalu dipanaskan kembali, atau tentang kondisi saldo yang hari ini masih satu digit dan berharap suatu hari bisa menyentuh tiga digit.
Bagi Vani, tidak ada yang perlu dibuat terlalu dramatis. Kehidupan sehari-hari memang sudah memiliki ceritanya sendiri.
Menariknya, Vani juga tidak pernah secara khusus mencari pekerjaan atau mengejar brand untuk berkolaborasi. Biasanya justru brand yang datang dan menghubunginya. Ia sendiri bahkan tidak terlalu tahu apa pertimbangan mereka ketika memilih dirinya.
Yang jelas, sampai saat ini ia menikmati pekerjaan tersebut. Salah satu hal yang paling menyenangkan tentu saja ketika apa yang ia lakukan bisa menghasilkan uang secara langsung. Di tengah banyaknya pekerjaan yang terkadang terasa rumit, Vani justru menemukan sesuatu yang menyenangkan dari aktivitas yang awalnya hanya ia lakukan karena ingin menulis dan bercerita.
Vani juga tidak merasa perlu memberikan banyak tips kehidupan kepada orang lain. Baginya, setiap orang punya jalan masing-masing dan tidak semuanya harus mengikuti pola yang sama.
“Lakukan saja sesukamu. Hidup cuma sekali. Sayang sekali kalau harus mengikuti standar orang.”
Kalimat itu menggambarkan caranya melihat kehidupan dengan lebih bebas. Ia tidak ingin memaksakan definisi sukses, bahagia, atau pencapaian tertentu kepada orang lain. Kalau sesuatu cocok untuk kita, jalani. Kalau tidak cocok, tidak perlu dipaksakan hanya karena orang lain melakukannya.

Pada akhirnya, Vani memilih menjalani hidup dengan caranya sendiri, tanpa terlalu sibuk mengejar ekspektasi orang lain.
Pesannya pun sederhana, bahkan mungkin terdengar tidak bijak: “Nggak semua hal yang orang lain bisa, kita harus bisa juga. Kalau mereka bisa, ya sudah, biarin.”
Ada kebebasan dalam kalimat sederhana itu, sebuah pengingat bahwa hidup bukan perlombaan untuk menyamai pencapaian orang lain. Kita tidak harus memiliki semua yang dimiliki orang lain, dan tidak harus mampu melakukan semua yang bisa mereka lakukan.
Terkadang, cukup menjalani hidup sendiri, dengan segala sederhana dan kurangnya, sudah merupakan perjalanan yang layak untuk dinikmati.
source image: Vani

