Nosel.co Jakarta- Perjalanan hidup Tri Larasati selama 22 tahun dipenuhi berbagai lika-liku yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Ia lahir di Payangan, Gianyar, dan sempat tinggal di Batubulan serta Badung, Bali. Masa kecilnya diwarnai kehangatan keluarga yang begitu berarti. Namun, hidupnya berubah ketika sang ibu meninggal dunia saat Tri berusia 19 tahun.
Kehilangan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia belajar lebih banyak tentang kehidupan, menghadapi berbagai persoalan, serta memahami bahwa setiap perjalanan tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Ketertarikan Tri pada dunia public speaking bermula dari sebuah pengalaman sederhana ketika usianya baru 14 tahun. Saat itu, kakak keduanya yang sedang menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual meminta bantuannya untuk berperan sebagai pembawa berita dalam sebuah tugas membuat animasi video dan studio berita.
Tri pun menjadi pembaca berita untuk proyek tersebut. Dari pengalaman pertamanya itulah, ia mulai menyukai dunia berbicara di depan publik. Ia kemudian terus mencari pengalaman melalui dunia MC, host, hingga berbagai perlombaan News Anchor.
Perjalanan tersebut akhirnya membawanya menjadi seorang reporter, bahkan tahun lalu ia juga mendapatkan pengalaman sebagai penyiar radio.

Namun, perjalanan menuju dunia yang dicintainya tidak selalu mudah. Sebelum berada di posisinya saat ini, Tri pernah melamar ke enam stasiun radio di Bali dan dua stasiun televisi. Saat itu, ia belum berhasil lolos menjadi penyiar maupun News Anchor.
Penolakan tersebut ia alami ketika masih berusia 16 tahun dan berada dalam tahap belajar. Namun, ia tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti. Justru berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses yang membawanya terus belajar, memperbaiki diri, dan mencari kesempatan baru.
Kini, sebagai seorang reporter, Tri menikmati banyak hal dari pekerjaannya. Setiap hari ia dihadapkan pada isu-isu baru, bertemu dengan berbagai narasumber, serta menghadapi tantangan yang berbeda.
Baginya, pengalaman baru, relasi, perencanaan hidup, dan berbagai tantangan justru menjadi sumber semangat. Ia bahkan memiliki cara sederhana untuk menjaga motivasi, yaitu mencatat satu hal yang ingin dicapai keesokan harinya.
Dengan memiliki tujuan, sekecil apa pun, ia merasa memiliki alasan untuk bangun dan menjalani hari dengan lebih bersemangat. Menurutnya, ketika seseorang memiliki goals, semangat akan datang dengan sendirinya.

Harapan Tri sederhana, yaitu tetap sehat dan selalu memiliki rencana serta tujuan dalam hidup. Baginya, tujuan membuat hidup lebih bermakna dan memberikan semangat untuk terus melangkah. Kepada siapa pun yang membaca kisahnya, Tri berpesan,
“Life presents many challenges, stay positive, write down your goals, and devise a strategy to achieve them. Be a person of value through both thought and action.”
Hidup memang menghadirkan banyak tantangan, tetapi dengan tetap berpikir positif, memiliki tujuan, dan menyusun strategi untuk mencapainya, setiap orang dapat terus bertumbuh dan menjadi pribadi yang bernilai melalui pikiran maupun tindakan.

