Nosel.co Jakarta- Lahir di Belitung, sebuah pulau kecil di antara Sumatra dan Kalimantan, Chef Bella menyimpan kenangan masa kecil yang begitu istimewa.
Ia tumbuh bersama kakek dan neneknya yang bertugas sebagai abdi negara di Belitung, sementara kedua orang tuanya bekerja di Pulau Jawa.
Baginya, Belitung bukan sekadar kampung halaman, melainkan tempat penuh kenangan dengan keindahan pasir putih, hamparan batu granit, dan pantai yang memesona.
Pulau ini juga semakin dikenal sebagai Negeri Laskar Pelangi, setelah kisahnya diangkat melalui novel dan film karya Andrea Hirata yang juga berasal dari daerah tersebut.
Perjalanan pendidikan Bella dimulai dari bidang ekonomi dengan mengambil jurusan Manajemen di Yogyakarta. Namun, pengalaman bekerja di sejumlah restoran di Pulau Jawa, termasuk di bidang bar dan kitchen, justru membawanya semakin dekat dengan dunia kuliner. Pada 2010, ia memutuskan kembali ke Belitung untuk membangun bisnis kuliner.
Kecintaannya terhadap bidang F&B membuatnya terus belajar dan memperdalam keahlian, bahkan kembali menempuh pendidikan di salah satu sekolah kuliner di Yogyakarta.
Perjalanan tersebut kemudian mengantarkannya terlibat dalam program Dapur Biru pemerintah sebagai salah satu chef yang membantu operasional dapur.

Bagi Bella, menjadi seorang chef bukan hanya tentang kemampuan memasak makanan yang enak. Ada tanggung jawab besar dalam memahami standar keamanan pangan seperti HACCP, GMP, dan FSMS, termasuk food handling, ketahanan pangan, penyimpanan bahan makanan, hingga etika bekerja di dapur.
Ia juga memahami bahwa dapur industri dan dapur pelayanan makanan berskala besar memiliki sistem operasional yang berbeda, mulai dari pengelolaan suhu hingga metode penyajian.
Pengalaman tersebut semakin meyakinkannya bahwa pengelolaan dapur harus dilakukan secara profesional dengan sistem yang tepat dan tenaga ahli yang memahami bidangnya.
Bella berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikembangkan Badan Gizi Nasional dapat terus didukung dan disempurnakan.
Menurutnya, program ini bukan hanya membantu pemenuhan gizi anak-anak, khususnya di daerah pedalaman, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi relawan dan karyawan, memberikan peluang bagi supplier, serta menggerakkan UMKM di sekitar dapur.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan chef berpengalaman dan tenaga profesional agar standar keamanan pangan, kualitas makanan, serta tata kelola dapur dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dengan pengelolaan yang baik, manfaat program ini diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Menutup ceritanya, Chef Bella menyampaikan pesan bahwa keberhasilan sebuah program sangat bergantung pada sistem dan orang-orang yang menjalankannya.
“Sistem terbaik akan berjalan baik apabila seluruh mekanisme di dalamnya diatur secara tepat, setiap orang memahami tugas dan fungsinya, tidak asal-asalan dalam menjalankan amanah, serta terus mengikuti petunjuk teknis dan standar nasional.
Saya berharap MBG dapat membantu anak-anak yang kekurangan gizi, terutama di daerah pedalaman. Karena orang yang tahu arti lapar akan memahami bagaimana caranya bersyukur ketika mereka bisa menikmati makanan hingga kenyang.”
Baginya, perjalanan di dunia kuliner bukan sekadar profesi, tetapi juga kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
source image: Cheff Bella

